Kamis, 01 Agustus 2013

Macaroon Love, Cinta Berjuta Rasa [Sebuah Resensi]


Judul: Macaroon Love (Cinta Berjuta Rasa)
Penulis: Winda Krisnadefa
Cetakan: I, Maret 2013
ISBN: 978-602-9225-83-9
Penerbit: Penerbit Qanita

Hidup adalah kumpulan masalah. Semua manusia yang hidup pasti mempunyai masalah. Pun demikian dengan Magali, si mungil aneh dan tidak biasa ini. Berawal dari namanya yang di luar nama pasaran, ayahnya yang bekerja sebagai cook di kapal pesiar dan jarang mendarat, sepupunya yang hampir sama anehnya, hingga neneknya yang sangat nyentrik. Benar-benar, cerita di buku ini mampu memikat siapa saja yang membacanya dari awal sampai akhir halaman.

Magali, Seorang Wanita 'Biasa' yang 'Tidak Biasa'
Magali bukanlah seorang wanita yang neko-neko. Prinsip hidupnya yang sangat klasik, yaitu lahir, besar, sekolah, bekerja, menikah, mempunyai anak, dan meninggal dunia membuat dia tidak ambisius dalam mencapai keinginan dan cita-citanya. Namun meskipun demikian, dia selalu berucap, “Andai namaku bukan Magali,” sebagai whish-nya di setiap hari ulang tahunnya. Ya, Magali percaya, semua ketidak-normalannya berawal dari namanya.

Kehidupannya berubah manakala sebuah restoran bernama sama dengannya, Magali, plus sang pemilik restoran, Ammar, mengisi hari-harinya. Kesinisannya, karirnya, hingga perasaannya perlahan-lahan seperti berdegradasi dari suasana yang buram menuju panorama berwarna laksana pelangi. Semua tertutur runut dan mengalir dari awal hingga akhir.


Asyiknya Buku Ini…
Membaca novel Macaroon Love, Cinta Berjuta Rasa seperti menikmati sepiring gado-gado. Kita dibuat tergelak dengan bahasa yang digunakan penulis dalam penuturan Magali dan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Kita dibuat tertawa geli saat Magali tersipu-sipu saat jatuh cinta. Dan kita juga tersenyum miris karena keironisan nasib Magali yang bahkan tak memiliki sahabat sebagai teman curhat, selain sepupunya, Beau.

Kepiawaian penulis di buku ini terlihat juga dalam hal mengupas dunia kuliner. Nama-nama makanan, tokoh-tokoh terkenal, hingga penjelasan Magali yang diceritakan sebagai penulis lepas untuk rubrik makanan di Free Magazine sangat memikat. Semua dikemas secara apik dan menarik sehingga jauh dari kesan yang membosankan.

Tak Ada Gading yang Tak Retak
Kejadian-kejadian yang dialami Magali memang sangat manusiawi. Namun yang menjadi pertanyaan, adakah manusia yang begitu nahasnya seperti Magali di dunia ini? Dari mulai kecil yang sudah ditinggal oleh ibunya, ayahnya yang bekerja di lautan dan sangat jarang pulang, mempunyai sepupu yang yatim piatu, hingga akhirnya ayahnya meninggal sebelum Magali sukse. Kejadian-kejadiannya memang masuk akal, tapi untuk terjadi pada satu orang saja, yaitu Magali, itu rasanya membuat heran dan sedikit tidak rasional.

Secara umum novel ini asyik dibaca. Meskipun ini merupakan novel yang bisa dibaca mulai dari remaja ke atas, yang notabene sudah mempunyai kemampuan membaca tingkat tinggi, tapi, di bagian-bagian tertentu, ada banyak sekali kalimat panjang yang tidak berjeda. Dan ini bisa menjadi penafsiran yang ambigu. Mungkin akan lebih baik jika kalimatnya dipecah menjadi beberapa kalimat yang lebih pendek dan sederhana.      

So,
Siapa pun yang mengaku penggemar novel romance yang ringan dan asyik, harus membaca buku ini. Tak hanya sekadar menghibur, tokoh Magali banyak menaburkan ilmu-ilmu baru. Bukan saja dalam dunia kuliner, pemikiran-prmikirannya yang cerdas pasti bisa membuka wawasan kita dalam menjalani hidup. Yupp! Hidup tak melulu soal uang, pakaian, atau pun karir cemerlang. Menikmati hidup dengan berprinsip pada kemauan diri sendiri dan tetap menjadi diri sendiri itu lebih baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar