Kamis, 03 Februari 2011

Cerita Cinta dari Blog Tetangga

Ungkapan cinta nan sederhana namun sarat makna....

Dan Dia Adalah Pilihan Hidupku

Membangun keluarga bukanlah sekadar tahu bahwa bata, pasir, semen, air, dan kerikil adalah unsur pembangun rumah. Membangun keluarga itu harus memahami ilmu hitung, ilmu tanah, rumus kekentalan campuran, dan segala hal yang mempengaruhi kuat-tidaknya pondasi sebuah rumah. Tidak hanya pondasi, tetapi juga keseluruhan unsur pembangun rumah tanpa kecuali, termasuk bagaimana proses perawatan yang baik agar usianya melewati beberapa generasi.

Sosok itu bukannya tidak tahu mengapa dia memilih pasangan jiwanya sebagai orang terkasih. Alasannya begitu suci. Begitu putih bahwa hatilah yang mampu menjawab itu semua. Bukan ucapan yang bercampur dengan ludah kenistaan. Atau kata-kata yang membuai sang mata hingga menjadi buta. Hatinya begitu menyatu. Hingga kerlingan mata atau senyuman nan indah cukup menjadi jawaban pasti.
Dan sosok itu pun pernah menulis surat pada pasangan jiwanya. Surat kehampaan tak lama setelah keduanya merajut bahtera. Surat pengikat yang meniadakan jarak menjadi kerinduan tak bertepi.

Kadangkala hidup memang tidak seindah yang kita bayangkan. Hidup tidak sesederhana yang kita rasakan dan simpulkan. Hidup tidak semudah yang kita jalankan. Dan hidup tidak seperti buah catur yang susunan jalannya terarah dan sebagaimana mestinya. Akan tetapi inilah hakikat hidup manusia yang sebenarnya. Bersyukurlah karena (masih) bisa merasakan hidup lebih berwarna dan mengasah kita menjadi manusia pembelajar. Bersyukurlah karena dengan hidup ini kita dipertemukan dan saling menyayangi, kemudian kemanusiaan kita diuji lebih dewasa lagi.

Begitulah cinta. Cinta halal yang sudah terikat dengan ikatan pernikahan. Pernikahan yang berlandaskan ketulusan jiwa akan sebuah ibadah yang tidak sepele. Perpisahan lama dan jarak yang jauh, semakin menggelorakan hati. Menggelinjang dan meraba-raba, berharap ada pegangan yang mampu menenteramkan. Cinta yang membuat hati terasa terpotong-potong saat jarak menjadi palang.

Cinta itu bunga; bunga yang tumbuh mekar di taman hati. Taman itu adalah kebenaran. Yang menumbuhkan, mengembangkan, dan memekarkan bunga itu adalah air dan matahari. Keduanya adalah kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan, tapi matahari memberinya gelora kehidupan. Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan manusia. Sepasang kekasih.
Sosok itu sadar bahwa dia hanyalah manusia biasa. Namun sosok itu hanya percaya. Hanya memiliki keyakinan. Pasangan jiwanya adalah manusia luar biasa. Adalah wanita paripurna yang tahu akan kekurangan dirinya. Wanita yang mampu menutupinya dengan segala cahaya kelebihan. Dan ketika keduanya menyatu, cahaya cemerlang pun menyebar mengundang pelangi. Takada yang sempurna. Namun keduanya berusaha saling melengkapi.

“Takut gagal adalah gagal yang sejati. Hidup adalah gerak, gerak adalah maju, berjuang dan naik, jatuh dan naik lagi. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, sebab gagal dalam kepedulian adalah lebih baik daripada menang dalam kehinaan. Orang yang gagal sekali-kali tidak rugi, selagi dia belum berputus asa.”  
Dr. Hamka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar