Minggu, 28 April 2013

Be Bob, Satu Nama Banyak Cerita

 


Menulis cerita tentang sepatu membuatku kembali teringat pada kenangan-kenangan lama. Apalagi dengan Be Bob. Brand sepatu kebanggaan orang Bandung ini menyimpan cerita-cerita lucu sekaligus pengalaman konyol yang pernah aku lakukan. Begini ceritanya ….

Be Bob Pertamaku, Si Sepatu Kungfu

Di keluarga, aku adalah pemilik kaki yang paling boros. Setiap sepatu atau sandal yang dibelikan orang tua, paling lama 3 bulan saja betah dipakai kakiku. Solnya yang jebol, jahitannya yang robek, kain atau kulitnya yang bolong, hingga bentuknya yang tidak karu-karuan menjadi sekian dari penyebab aku bergonta-ganti sepatu sampai 6 kali dalam setahun. Tak cuma untuk sepatu murah, sepatu mahal pun tak ada yang bisa menaklukan kakiku.

Berbagai merek dan bentuk sepatu pernah hinggap di kakiku. Setiap saran teman atau saudara tentang sepatu yang awet, selalu aku coba. Hasilnya? Nihil belaka. Sampai-sampai, budget sepatu untuk adikku, si pemilik kaki paling irit, berpindah ke kaki borosku.

Penasaran dengan apa yang membuat kakiku begitu boros sepatu? Sederhana saja. Aku terlahir sebagai perempuan yang ‘sedikit’ tomboy. Setiap berjalan, jika ada batu, kaleng rombeng, botol air mineral, atau apa pun yang dekat dengan kakiku, secara spontan (lebih tepatnya iseng), kakiku langsung menendangnya. Jika tak ada sasaran, tembok atau pagar tetangga, seringkali menjadi objek keisengan kakiku.

Suatu kali, ketika aku duduk di bangku SMA, sekitar tahun 1994, seorang teman memakai sepatu yang aduhai. Aku sungguh mengagumi sepatu itu. Usut punya usut, sepatu itu bernama Be Bob. Dengan sejuta rayuan, aku berhasil membuat ibuku percaya bahwa Be Bob adalah sepatu yang awet. Dia pun lalu berjanji akan membelikannya untukku.

Kebahagiaan mendapat sepatu Be Bob ternyata tak seperti yang kuharapkan. Ibu membelikanku Be Bob yang lain. Sepatu hitam berbahan dasar mirip kanvas dengan sol hitam karet yang sangat elastis. Aku menjulukinya Sepatu Kungfu karena memang, bentuknya mirip dengan sepatu-sepatu yang dipakai Jacky Chan, Jet Li, atau Andy Lau saat mereka berlaga di film kungfu.

Sepatu Be Bob kungfu itu sebenarnya nyaman dipakai, tapi karena bentuknya yang ‘sedikit’ feminin, aku jadi tersiksa saat memakainya. Sebagai anak tomboy, jelas itu sudah melanggar aturan.

Tiga bulan pertama pun berlalu dengan begitu lama. Si sepatu kungfu masih saja utuh tanpa ada robekan sedikit pun. Padahal tugasnya dalam menendang batu, kaleng rombeng, dan teman-temannya lebih berat daripada sepatu-sepatuku sebelumnya. Belum lagi kalau hujan tiba. Dengan senang hati dan tanpa ragu-ragu, sepatu itu aku pakai untuk berblusukan ria.

Enam bulan berlalu. Si sepatu kungfu tetap begitu. Hanya ada bocel-bocel sedikit yang bahkan tak kasat mata jika si sepatu tak dilihat dari dekat. Aku galau dibuatnya. Tentu saja karena aku berharap sepatu Be Bob baru yang keren dan cocok dengan kepribadianku.

Menjelang usia si kungfu yang akan setahun, di dalam ketersiksaan yang hebat, diam-diam muncul ‘ide kriminal’. Ya, aku sengaja menggunting jahitan sepatu, menusuk-nusuk solnya dengan paku, dan juga merobek sedikit demi sedikit bagian atasnya. Tujuannya supaya aku segera mendapat sepatu baru itu.

Kejahilanku ternyata diketahui ibu. Dan sebagai imbalan atas tindakanku, aku diberi hadiah sepatu kungfu yang sama. Jadilah masa SMA itu masa paling irit di dalam sejarah perjalanan hidupku. Tiga sepatu untuk tiga tahun dengan satu model yang sama. 

Be Bob kungfuku modelnya mirip dengan sepatu Amanda Jane's dari Be Bob di bawah ini. Pembedanya hanyalah dari warnanya yang hitam dan juga kelenturannya.

Flat Shoes Amanda Jane's dari Be Bob

High Heels, Akhir Karir Seorang SPG
Cerita keduaku dengan Be Bob terjadi saat aku kuliah, tepatnya di tahun kedua masa perkuliahan.

Sebagai anak kuliahan, mempunyai uang saku lebih yang tak hanya pemberian orang tua tentu membawa kebahagiaan tersendiri. Demi hal itu, berbagai tawaran kerja dadakan, kerap kali aku terima. Dari menjadi pengawas ujian adik tingkat, asisten kelas, asisten praktikum, hingga menjadi SPG (Sales Promotion Girl) untuk pameran.

Suatu kali, saat menjadi SPG untuk pameran, aku diminta memakai high heels. Sebagai perempuan tomboy, ini tentu adalah tuntutan yang sangat berat. Bukan cuma tak punya sepatu jenis itu, kemampuanku menggunakannya pun tidak ada. Aku bahkan tak pernah memakai sepatu berhak satu senti pun.

Singkat kata, seorang teman yang merupakan kolektor sepatu high heels memberiku pinjaman. Dari sekian banyak koleksinya, aku memilih sepatu Be Bob. Alasannya tentu karena aku tahu seperti apa nyamannya sepatu merek ini. Walau pun kenangan tentangnya berbeda dari apa yang akan aku lakukan.

Di hari pertama pameran, semua hampir sempurna. Si Be Bob high heels cukup ramah di kakiku. Lecet-lecet dan pegal sedikit sih, aku tahan saja. Aku anggap, itu bukan masalah yang berarti.

Hari kedua ternyata berbeda. Lecet-lecet hari sebelumnya cukup menyiksa. Tapi demi rupiah, aku tahan saja. Menjelang siang, aku sebenarnya sudah tak tahan. Secantik apa pun aku melangkah, sekuat apa pun aku menahan, ujung jari yang lecet terjepit terus saja meronta untuk segera bebas dari kurungan bernama sepatu high heels itu. Tapi lagi-lagi, aku menahannya.

Saat itu tiba-tiba datang sepasang pengunjung pameran yang tak biasa. Dilihat dari wajahnya, sepertinya mereka orang Jepang. Ya, dugaanku benar. Berbekal Bahasa Inggrisku yang belepotan, aku nekad bertanya-tanya kepada mereka.

Awalnya, aku mencoba jaim (jaga image). Tapi begitu mereka memintaku menjelaskan mengenai teknologi yang ada di booth yang aku jaga, fokusku akan kaki lecet versus high heels nan menyiksa itu, tiba-tiba saja hilang. Tentu saja karena sebagai SPG yang ter-briefing dengan baik, aku semangat menjelaskan apa yang diminta pengunjung asal Jepang itu.

Saat beralih pada maket yang ada di pojok, luka lecetku berontak. Kontan, aku berjongkok diiringi jeritan yang mengagetkan semua pengunjung di booth-ku. Tak hanya itu saja. Karena aku berjongkok secara tiba-tiba, pergelangan kakiku mendadak terkilir. Sepatu Be Bob high heels yang aku pakai itu sih baik-baik saja. Padahal jika sepatu biasa, aku yakin bagian haknya sudah patah duluan.

Kejadian itu sungguh meninggalkan trauma. Aku kapok dibuatnya. Alih-alih ingin mendapat uang, aku malah jadi nombok. Tentu saja karena uang honor menjadi SPG saat itu tidak cukup untuk biaya urut akibat kaki yang terkilir. Benar-benar, momen itu menjadi akhir karirku sebagai SPG pameran.

Seperti ini nih Be Bob high heels yang aku pakai dulu. Bedanya hanya dari warnanya yang hitam dengan penutupnya yang penuh menutupi permukaan kaki dan tanpa tali

Be Bob high heels

Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK)
Insiden heboh menjadi SPG itu sudah belasan tahun berlalu. Meskipun sakitnya masih terbayang, ada satu kerinduan yang muncul di dalam hatiku sekarang-sekarang ini. Yupp! Karena sering melihat perempuan-perempuan cantik memakai high heels, diam-diam aku pun menginginkannya. Tapi tentu bukan jenis sama seperti waktu itu. High heels yang aku damba tak sepenuhnya feminin. Walaupun sudah beranak-pinak begini, aku masih saja tomboy.  Ya, high heels tipe boots yang dimiliki Be Bob ini sangat aku damba. Walaupun aku tidak tahu, bisa atau tidak dalam memakainya, suatu hari nanti, aku pasti akan membelinya. Keren, bukan?

Be Bob high heels dambaanku

Oh ya! Setelah insiden nan memalukan itu, aku beralih menjadi pengguna flat shoes dan juga flat sandal Be Bob yang setia. Dua jenis alas kaki ini sungguh nyaman di kakiku. Pernah sih sekali waktu aku menggunakan wedges Be Bob pinjaman. Namun meskipun nyaman, lagi-lagi, sebagai emak-emak tomboy, wedges tak cocok untuk aku. 

Sepatu-sepatu flat shoes keren dari Be Bob yang aku taksir di http://bebobshoes.com

Ini lho flat sandal Be Bob kesayanganku. Seperti halnya Si Be Bob Kungfu, sandal ini awet gak ketulungan. Sudah 3 tahun si Be Bob flat sandal ini menemani hari-hariku. Lihat saja, meski mereknya sudah hilang, tali-talinya masih kuat menyangga kakiku (yang sesekali masih suka menendang-nendang).

Sandal Be Bob flat kesayanganku

Itu cerita-ceritaku mengenai Be Bob Shoes, The Fashionable Shoes yang awet, aman, dan nyaman. Bagaimana ceritamu?



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar