Selasa, 02 Juli 2013

Green Hospital, Sebuah Impian akan Rumah Sakit yang Berwawasan Lingkungan

Mainan merupakan hal yang biasa dimiliki anak-anak. Buat saya, mainan lebih daripada sekadar alat untuk bermain. Ya, tentu saja karena mainan bisa juga menjadi alat perangsang kemampuan yang dimiliki anak. Anda tahu Konsep Kecerdasan Majemuk? Nah, bagi saya, mainan itu adalah alat yang bisa meningkatkan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak itu. Misalnya untuk kecerdasan logis-matematis, mainan yang digunakan adalah benda-benda yang bisa dihitung; untuk kecerdasan kinestetik-jasmani, mainannya adalah bola yang bisa ditendang; untuk kecerdasan spasial, mainannya adalah buku gambar dan crayon untuk menggambar; adapun untuk kecerdasan musikal, mainannya adalah piano-pianoan yang bisa dipakai untuk mengenali bunyi.

Tak semua mainan itu baik. Ada juga ternyata mainan yang justru malah membahayakan anak-anak. Bahkan tak cuma anak-anak, orang dewasa pun bisa terkena bahaya dari mainan ini.

Mainan yang saya maksud adalah mainan yang terbuat dari limbah rumah sakit. Ya, saya baru mengetahui jenis mainan ini beberapa waktu yang lalu. Saat itu, anak-anak saya asyik bermain air. Awalnya saya kira itu hanya penyemprot biasa. Akan tetapi setelah saya lihat lebih teliti, itu adalah syringe atau alat suntik yang biasa digunakan ahli medis untuk menyuntik pasien. Bedanya, syringe ini tidak lagi menggunakan jarum suntiknya.

Sebagai orang tua, tentu saya kaget. Bagaimana bisa syringe dijual sebagai mainan. Apalagi dengan harga yang murah. Sudah pasti, syringe itu adalah syringe bekas pakai alias limbah rumah sakit yang kemudian hanya dicuci air biasa dan lalu dijual ke pasar. Tak hanya syringe saja. Di tukang dagang mainan anak-anak ternyata ada juga sarung tangan karet yang saya duga juga merupakan limbah rumah sakit. 

Setelah mewanti-wanti anak-anak untuk tak lagi bermain dengan mainan seperti itu karena berisiko menimbulkan penyakit, saya jadi berpikir, seperti apa sih proses pembuangan limbah rumah sakit? Bagaimana bisa limbah-limbah berbahaya yang mungkin menjadi alat penular penyakit seperti pada syringe dan sarung tangan karet itu bisa sampai dijual jadi mainan anak-anak? Mungkinkah limbah-limbah itu dibuang sudah dalam keadaan aman?

Proses Pengelolaan Limbah Rumah Sakit
Proses pembuangan limbah pada rumah-rumah sakit bahkan puskesmas, itu berbeda dengan pembuangan limbah rumah tangga. Tentu saja karena di rumah sakit, limbahnya itu berbeda dari limbah rumah tangga. Jika digambarkan secara skematik, proses pembuangan limbah rumah sakit itu bisa seperti gambar di bawah ini.

Credit

Semua diawali dari pemilahan jenis limbah (sampah). Ada limbah domestik yang merupakan limbah toilet, ada limbah dapur/gizi, ada limbah laundry, ada limbah medis/klinis, serta ada limbah padat. Setiap jenis limbah akan diproses dengan cara yang berbeda-beda. Limbah domestik akan masuk ke dalam septik tank. Limbah dapur/gizi akan masuk ke dalam fog trap. Limbah laundry akan masuk ke dalam foam/solid separatot. Limbah medis/klinis akan masuk ke dalam tempat oksidasi. Adapun untuk limbah padat akan dipilah lagi ke dalam dua jenis limbah infeksius dan limbah non infeksius.

Secara umum, setiap jenis limbah akan diproses dengan sebaik-baiknya. Sehingga, sampah akhir tingkat membahayakannya terhadap lingkungan sekitar maupun manusia akan menurun bahkan sampai hilang. Jadi seharusnya, semua limbah yang dibuang ke alam, apalagi ke tempat pembuangan akhir (TPA) sudah dalam keadaan aman. Namun walaupun sudah aman, limbah rumah sakit ini (terutama dari yang berisiko menular = infeksius, seperti syringe dan sarung tangan karet) rasanya tidak etis jika kemudian digunakan. Apalagi untuk dibuat mainan anak-anak. 

Konsep Green Hospital
Proses pengelolaan limbah rumah sakit yang bertujuan untuk menurunkan dan menghilangkan tingkat penularan terhadap lingkungan itu termasuk ke dalam salah satu konsep green hospital rumah sakit yang berwawasan lingkungan. Yaitu konsep mengandung pengertian sebuah konsep aksi yang memadukan antara unsur kesehatan dan unsur lingkungan. Selain pengelolaan limbah atau sampah, konsep green hospital juga meliputi daerah lahan ruang terbuka hijau, penggunaan sistem pencahayaan, penggunaan pendingin ruangan, penggunaan air yang efisien, serta sosialisasi yang berkelanjutan terhadap pihak internal (staf dan paramedis) rumah sakit, maupun eksternal, tentang pentingnya konsep green hospital ini dan cara berpartisipasi dalam program green hospital.
  • Daerah lahan ruang terbuka hijau
Konsep green hospital untuk cakupan ini sudah sangat jelas. Rumah sakit yang berwawasan lingkungan atau green hospital itu harus mempunyai daerah lahan ruang terbuka yang hijau. Misalnya saja taman bermain anak, halaman, tempat parkir, tempat berjalan-jalan pasien, dan lain-lain. Cakupan ini tujuannya tentu adalah agar rumah sakit dikelilingi oleh alam yang kaya akan oksigen, di samping pemandangan yang hijau itu sangat indah dan menyejukkan.

  • Penggunaan sistem pencahayaan
Sistem pencahayaan rumah sakit berwawasan lingkungan tentu sebisa mungkin menggunakan cahaya alami matahari dan meminimalkan penggunaan lampu di siang hari. Jadi dengan demikian, setiap ruangan pasti mempunyai jendela kaca yang mampu membuat sinar matahari masuk dan menyinari ruangan. Desain atap yang menggunakan sistem solar cell merupakan ide yang baik. Tentu saja agar di malam hari, listrik untuk pencahayaan bisa diperoleh dari listrik yang dihasilkan atap solar cell. Dan jika mungkin, seluruh listrik yang digunakan berasal dari listrik solar cell itu.

  • Penggunaan pendingin ruangan
Ruangan yang sejuk merupakan ruangan yang baik untuk kesehatan. Selain membuat pasien tidak kepanasan, ruangan yang sejuk bisa membuat penyebaran kuman penyakit sedikit diminimalkan. Untuk hal ini, penggunaan pendingin ruangan tentu sangat dibutuhkan. 

Rumah sakit yang berwawasan lingkungan memang membutuhkan pendingin ruangan. Pendingin ruangan dengan jenis yang bisa membunuh kuman penyakit merupakan pilihan terbaik. Akan tetapi jika dihubungkan dengan penggunaan listrik, sebisa mungkin ruangan bisa sejuk dengan cara yang alami. Caranya tentu adalah dengan pembuatan sistem ventilasi udara yang baik dan desain ruangan yang tinggi. 

  • Penggunaan air yang efisien
Rumah sakit yang berwawasan lingkungan tentu menggunakan air secara efisien. Untuk itu, semua penggunaan air di rumah sakit itu selalu dalam pengawasan sehingga terhindar dari keborosan dan air yang terbuang percuma. Untuk hal ini, di rumah sakit berwawasan lingkungan dipastikan tidak akan ditemukan kran rusak ataupun hal-hal teknis lain yang membuat air mengalir tanpa adanya kebutuhan.

  • Sosialisasi yang berkelanjutan 
Untuk hal ini, rumah sakit yang berwawasan lingkungan pasti akan selalu melakukan sosialisasi. Baik itu sosialisasi internal antar pihak rumah sakit, dokter, suster, dan seluruh pihaknya, maupun ke pihak eksternal yang meliputi pasien, pemerintah, hingga masyarakat. Tujuannya tentu agar gerakan menciptakan rumah sakit yang berwawasan lingkungan ini bisa didukung oleh semua kalangan. Dengan begitu, tujuan yang sudah ditentukan bisa tercapai dengan relatif mudah dan tanpa menemui rintangan yang berarti.

Rumah Sakit Umum Daya Merupakan Contoh dari Rumah Sakit Green Hospital 
RSU Daya merupakan contoh dari rumah sakit yang berwawasan lingkungan itu. Semua cakupan yang sudah dijelaskan sudah dan sedang dilakukan oleh rumah sakit yang satu ini. Sungguh sangat melegakan mengetahui ada rumah sakit sejenis ini, karena selama ini, rumah sakit seperti itu hanya sebatas impian. Dengan begitu, rumah sakit ini menunjukkan bahwa mereka peduli dengan lingkungan dan juga kesehatan manusia secara umum yang tak hanya kesehatan para pasien dan orang-orang yang ada di rumah sakit ini saja.
Harapannya, semoga semua rumah sakit yang ada di Indonesia, bahkan dunia bisa menjadi rumah sakit yang berwawasan lingkungan seperti RSU Daya ini. Sehingga dengan begitu, alam yang ramah, asri, hijau, dan sedap dipandang mata bukan hanya sebatas impian dan cita-cita saja. Bukan mustahil jika kelak tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia akan meningkat dengan sendirinya. Ya, semoga saja.

***

Keterangan
  1. FOG trap (Fat, oil, and grease) adalah sebuah teknik pencucian alat-alat makan dan memasak yang membuat minyak-minyak dan bekas-bekas makanan yang menempel akan dibuang ke air pencucian dengan cara membuatnya menjadi lapisan antilengket terlebih dahulu. Dengan demikian, lapisan ini tidak akan menempel di pipa yang kemudian bisa menyebabkan penyumbatan. FOG juga berperan di dalam pengurangan pencemaran lingkungan akibat minyak dan lemak.
  2. Incinerator adalah alat pembakaran bahan organik yang menggunakan suhu tinggi. Alat ini banyak digunakan pada rumah-rumah sakit dan laboratorium. 
  3. Foam/solid separator adalah alat pemisah limbah yang memisahkan limbah-limbah busa/padat dari limbah cair.
  4. Oksidasi yang dimaksud pada pengolahan limbah medis/klinis adalah oksidasi limbah dengan bantuan udara. Dengan begitu diharapkan limbah itu bisa terbebas dari zat berbahaya setelah mengalami berbagai macam proses setelah oksidasi. Termasuk klorinasi  dan pengendapan.
  5. Limbah infeksius adalah limbah yang berisiko tinggi dalam menularkan penyakit, seperti darah, bilasan alat-alat operasi, jarum suntik, dan lain-lain.
  6. Limbah non-infeksius adalah limbah yang tidak berisiko menularkan penyakit, seperti kertas, dus, plastik, dan lain-lain.
  7. Desinfeksi ozon/UV adalah sebuah metode desinfeksi atau pembunuhan kuman yang mungkin masih ada di dalam produk akhir limbah dengan menggunakan sinar UV dan gas ozon.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar