Selasa, 09 November 2010

Puisi-puisi Kurinawan Junaedhie

100 Haiku Kurniawan Junaedhie untuk Susy Ayu
1/
Langit cerah
Aku tengadah
Terserah pasrah

2/
Di dalam korek api
kutemukan hatimu
yang sedang membara

3/
Tivi menayangkan pemandangan
Dia menggulingkan badan
Mata kami berkilatan

4/
Aku melihat peta di meja
ini sekujur tubuhnya
di antara bunga gladiola

5/
Ketika hari menjadi gelap
Leher jejang itu berkilat
Aku siap menerkamnya

6/
Barisan ilalang sibuk bergoyang
ditiup angin meleang-leang
Jiwaku ingin melayang

7/
Waktu tercekat
ketika dia mendekat
Kucium tepinya. Dahsyat

8/
Hutan cemara di jendela
membelit rambutmu
di kedua paha

9/
Langit mengundang
Tubuh telanjang di ranjang
Kasur mengerang

10/
Dinding kelu mengempit pintu
Aku dan si dia bergumul di situ
Pst. Ada hantu tersipu malu

11/
Hutan pinus
bibir ketemu bibir
Pohon tersihir


12/
Aku membeku di lidahmu
suaranya gemeratak
Memalu rahim

13/
Di udara dingin
Lidah berpilin
Seperti lilin

14/
Sedalam sumur
lidahku berkumur
dalam air ludahmu

15/
Di dalam telinga
Aku membaca
Gelisahmu yang menyala-nyala

16/
Leher jenjang
Teruntai sebentuk merjan
Kuterakan dua-tiga cupang

17/
Perahu berenangan
Napas di kerongkongan
menghirup kedua lengan

18/
Dua bukit dalam kabut
Di situ kata menyusut
Dalam lidah yang kalut

19/
Perut mulus
Merangkak di atasnya
Berharap tak meletus

20/
Secangkir kopi
Bergoyang di atas pusar
Berputar-putar

21/
Sepiring bakmi jawa
teronggok di dua kaki
Mengepulkan aroma

22/
Tak ada yang tahu
Siapa pembawa kunci
sampai bertemu pintu

23/
Telinga mendengar
kedalaman jurang
ketika menyentuhnya

24/
Aku masuk di air keruh
kamu menempel di lukisan
kita berenangan di gugusan awan

25/
Langit mengirim gerimis
tirai terbuka
Kita masuk dalam selimut

26/
Seperti ballerina
dalam kibasan jentera
Aku menggila

27/
Di balik selimut
udara berkabut
Hati saling berpagut

28/
Abu rokok membumbung di asbak
Pemiliknya di hutan tembakau
Menikmati pendakian

29/
Mendengar gemuruh
Mendengar hati yang riuh
Aku terpiyuh-piyuh

30/
Tubuh yang harum
Disimpan di mata
Dikulum di peraduan

31/
Suhu dingin
menyulam ke dalam rahim
Tuhan menyalakan lilin

32/
Pada kursi dan bangku
Dua jiwa bertumpu
seperti sumbu

33/
Hanya sedepa jaraknya
Lidah meraba
Tiba di hutan rimba

34/
Dua patung termenung
Di satu semenanjung
menghitung renung

35/
Hanya mengaduh
tak mengeluh
ketika menyusut peluh

36/
Hati terapung
Pikiran mengapung
Mencari oksigen!

37/
Jendela terbuka
Hati tetap saja rebah
di ranjang

38/
Seribu kata
tak ada makna
ketika tubuh jadi kalimat

39/
Hutan bakau
ikan di payau
Cintaku tak pernah lampau

40/
Hujan gemerisik
Tidur berdua
Jangan berisik!

41/
Kamu menari di sini
Aku menari di situ
Senyawa harmoni

42/
20 jari menari
Dalam kelebat malam
Meniup rindu dendam

43/
Seekor kepiting
menanting sunyi
dalam gigitan waktu

44/
Tubuhmu sumbu
Tubuhku bara
Sunyi membakarnya

45/
Ranjang yang sempit
Kayu berderit
Siapa menjerit?

46/
Di kamar mandi
Bau sabun menyesap
ke dalam jantung

47/
Dua iris semangka
teronggok di kulkas
Sunyi melengos malu

48/
Di percik ombak
rinduku terayun
di alun gelombang

49/
Lima ekor cicak
berlarian di langit kamar
Aku tafakur di ketiak

50/
Di dalam selimut
hanya suara kaki
sibuk bertengkar

51/
Angin berjalan di dinding
Mataku merayap di tebing
Beri hatimu sekeping

52/
Seiiris semangka
dibelah senja
menghisap kata

53/
Di dalam kotak AC
Aku menyimpan hatimu
agar membeku

54/
Daster kuning
bergambar kembang
membungkus rohnya

55/
Ada yang melintas
Di wajah pias
Rindu yang menderas

56/
Di anjungan belakang
Airmata jatuh berlinang
karena hati bahagia

57/
Saat lampu temaram
aku menyelendangkan hatimu
di paku gantungan

58/
Sunyi dipecahkan
oleh dering handphone
salah sambung.

59/
Aku ingin sembunyi
Di setiap halaman buku
Di pangkuanmu

60/
Angin menyelinap dari celah pintu
Membekukan rindu
Menghirup bau tubuhmu

61/
Di bawah shower,
Air hangat membersihkan luka
Saat itu gerimis bulan September

62/
Duduk di kafe
Angin meniupkan AC
Akhirnya sauhnya sampai

63/
Duduk di bawah rembulan
Semburat awan bergelayutan
Kata-kata kami simpan

64/
Ketika kata diterakan di pintu
Dia rebahkan tubuhku
Mengoyak abjad-abjad kesepianku

65/
Aku berdiri di anjungan
Dia di seberang pulau
Mengirim pesan singkat

66/
Di antara rintik hujan
Kudengar tik-tok sepatu
dan nafas tertahan

67/
Di pagi buta
Ada yang bercanda
Di balik celana saya

68/
Semangkuk bubur ayam
Bergoyang di meja restoran
Air ludah saling menelan

69/
Pesan singkat berkelebat
Dari dia di sebelah ranjang:
Aiseteru!

70/
Di pagi buta
Rindu kembali menyalak
Dia tergeletak kutembak.

71/
Mengunyah kacang mede
Mengeja perjalanan
Di tengah peluh bercucuran

72/
Di bawah ranjang
Sepasang sepatu kedinginan
Pemiliknya sibuk pelukan

73/
Nyala mata di kegelapan
Membakar api
Mengusir sepi

74/
Dua pasang mata
menyalakan bara
Di dalam dada

75/
Seekor kucing melesat
di kegelapan
Mengurungkan kiamat

76/
Di ruang tertutup
Hidup membeku
Seperti es batu

77/
Dua badan dua jiwa
Melambung jauh
Ke pinggiran sorga

78/
Di bawah jembatan
Bibirmu jatuh
Aku mengambilnya buru-buru

79/
Teh hijau tanpa gula
Tersaji dengan 1000 cinta
Hati yang menyala-nyala

80/
Ketika pagi berseri
Perpisahan menanti
untuk ribuan hari lagi

81/
Bantal menjadi saksi
Ciuman dinihari & remasan di jari
Ketika kau menari

82/
Dia berlari di jembatan
Aku sembunyi diam-diam
Senangnya becandaan

83/
Daun gugur di tanah
Pagi kita nikmati bersama
Tanpa kata-kata

84/
Di depan cermin
tubuhmu ada dua bagian
Satunya rebah di pangkuan

85/
Pelayan hotel
menawarkan sarapan
Kami sudah kenyang

86/
Di bawah jembatan
Batu kali tidak pernah menanti
cintamu jatuh sendiri

87/
Aroma sabun mandi
Bau kulit bayi
Meretas sunyi

88/
Di batang pinus
Dituliskan kata-kata
Dituliskan kisah asmara bergelora

89/
Jarak makin dekat
Tubuh tak berjarak
Jantung menandak-nandak

90/
Sarapan menunggu di restoran
Dia tidak pesan apa-apa
Hanya membaca isyarat

91/
Ketika duduk di meja makan
Sebuah pesan singkat dilayangkan
Hatinya membara

92/
Ketika langit terang
ada suara merintih
Membakar hati

93/
Dia melukis sepi
Dengan suara berbisik
Dan suara ikhlas

94/
Di atas pembaringan
Takada yang jawaban
Ketika keluh dilantunkan

95/
Setelah pintu ditutup
Aku mencium bibirnya
Beribu kata disalurkan

96/
Bahu yang kelu
Dada yang membatu
Tempat istirahku selalu

97/
Dari kaca spion
Jantungmu melambai
hatiku berjuntai

98/
Saat adzan subuh
hati letih bak kapal membuang sauh
tapi tak ada yang mengeluh

99/
Sederet nama
Selaksa cerita
Hanya dia kusemat di dada

100/
Ayam pun berkokok
Kutaklukkan Roro Jonggrang
Sudah kudirikan 100 candi!


---
Kurniawan Junaedhie, tinggal di pinggiran Jakarta. Menulis puisi dan cerpen di media massa. Terakhir, menerbitkaan buku kumpulan uisi “Perempuan dalam Secangkir Kopi” (2010), dan ikut dalam antologi 15 penyair Indonesia “Senandoeng Radja Ketjl” (2010).

Sumber : http://oase.kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar